<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<rss version="2.0" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:cc="http://web.resource.org/cc/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#">
	<channel>
				<title>Journal of Mandalika Social Science</title>
		<link>https://journal.institutemandalika.com/index.php/jomss</link>

							
		<description>&lt;p&gt;Welcome to the &lt;strong&gt;Journal of Mandalika Social Science&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;The &lt;strong&gt;Journal of Mandalika Social Science&lt;/strong&gt; or JMSS is an international open access and peer-reviewed-journal established by the Mandalika Institute. As a journal, JMSS offers articles with a wide range of issues in social science, both in international and national scale. We are open for everyone to submit their papers from different areas of study, including theories, field research, and literature reviews. Our goal is to present the highest quality of research in various areas of study and methodology of social science worldwide.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;The submitted articles must not be previously published in another publication, and must be a plagiarism-free original work. Our editorial board will sort the manuscripts with a plagiarism software, and will never accept the articles with a plagiarism rate of more than 25%. It is our policy to reject manuscripts automatically when plagiarism is indicated.&lt;/p&gt;</description>

							<language>en-US</language>
		
		
					<managingEditor>support@institutemandalika.com (Mandalika Institute)</managingEditor>
		
					<webMaster>support@institutemandalika.com (Dedi Saputra)</webMaster>
		
								<pubDate>Wed, 26 Feb 2025 00:00:00 +0000</pubDate>
		
						
		<generator>OJS 3.3.0.15</generator>
		<docs>http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss</docs>
		<ttl>60</ttl>

													<item>
										<title>Literature as Social Critique: Examining Class Struggle and Inequality in Contemporary Indonesian Fiction</title>
					<link>https://journal.institutemandalika.com/index.php/jomss/article/view/252</link>
					<description>&lt;p&gt;Literature serves not only as an aesthetic medium, but also as a reflection and critique of complex social realities. This article aims to examine how contemporary Indonesian fictional literary works represent class struggles and social inequality as part of the discourse of social criticism. This research uses a qualitative approach with a library research method on a number of post-reform Indonesian novels that raise the theme of poverty, marginalization, and structural inequality. The analysis was carried out by utilizing social criticism theory and literary sociology approaches to identify narratives of resistance, power, and inequality that appear in literary texts. The results of the study show that these works not only voice the socio-economic conditions of marginalized groups, but also offer a space for readers to re-reflect on the unequal social structure. Indonesian contemporary fiction writers use characters, plots, and settings as narrative strategies to raise social issues symbolically and ideologically. Thus, literature plays a role as a tool for transforming social consciousness that is able to penetrate the formal boundaries of education and mainstream media. This article recommends the need to strengthen interdisciplinary studies between literature and social sciences to better understand the relationship between texts, society, and social change in contemporary Indonesia.&lt;/p&gt;</description>

															<dc:creator>Andi Muhammad Husni Tamrin</dc:creator>
															
					<dc:rights>
						Copyright (c) 2025 Journal of Mandalika Social Science
						
					</dc:rights>
											<cc:license></cc:license>
					
					<guid isPermaLink="true">https://journal.institutemandalika.com/index.php/jomss/article/view/252</guid>
																	<pubDate>Thu, 24 Apr 2025 00:00:00 +0000</pubDate>
									</item>
											<item>
										<title>Pergeseran Nilai Sosial pada Generasi Z: Antara Individualisme dan Kolektivitas Digital </title>
					<link>https://journal.institutemandalika.com/index.php/jomss/article/view/250</link>
					<description>&lt;p&gt;Transformasi sosial yang dipicu oleh digitalisasi telah mengubah pola pikir dan nilai-nilai generasi muda, khususnya Generasi Z. Studi ini bertujuan untuk menganalisis pergeseran nilai sosial pada Generasi Z dalam konteks kehidupan digital yang semakin dominan, mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi kecenderungan mereka terhadap nilai individualisme dan kolektivitas digital, serta mengeksplorasi bagaimana mereka menyeimbangkan kedua orientasi nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui metode studi literatur terhadap sepuluh artikel ilmiah yang diterbitkan dalam delapan tahun terakhir. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Generasi Z tidak sepenuhnya meninggalkan nilai kolektivitas, melainkan mengadopsinya dalam bentuk yang lebih fleksibel dan kontekstual melalui platform digital. Sementara nilai individualisme berkembang sebagai bagian dari proses pencarian jati diri dan ekspresi personal, kolektivitas digital tetap hadir melalui partisipasi aktif dalam komunitas virtual dan gerakan sosial daring. Hasil penelitian ini menegaskan bahwa digitalisasi tidak hanya menjadi medium perubahan nilai, tetapi juga memungkinkan terbentuknya sintesis antara individualisme dan kolektivitas dalam konstruksi sosial Generasi Z. Studi ini memberikan kontribusi penting bagi pemahaman dinamika sosial kontemporer dan implikasinya terhadap pendidikan, kebijakan sosial, dan pembentukan karakter generasi muda.&lt;/p&gt;</description>

															<dc:creator>Dina Rosmita</dc:creator>
															
					<dc:rights>
						Copyright (c) 2025 Journal of Mandalika Social Science
						
					</dc:rights>
											<cc:license></cc:license>
					
					<guid isPermaLink="true">https://journal.institutemandalika.com/index.php/jomss/article/view/250</guid>
																	<pubDate>Thu, 24 Apr 2025 00:00:00 +0000</pubDate>
									</item>
											<item>
										<title>Ketika Like dan Share Menjadi Mata Uang Sosial di Era Digital</title>
					<link>https://journal.institutemandalika.com/index.php/jomss/article/view/258</link>
					<description>&lt;p&gt;Di era digital, media sosial telah bertransformasi menjadi arena sosial tempat status dan pengaruh individu ditentukan melalui interaksi simbolik seperti &quot;like&quot; dan &quot;share&quot;. Fenomena ini menunjukkan bahwa tindakan sederhana tersebut telah beralih fungsi menjadi mata uang sosial yang memiliki nilai dalam membentuk identitas, status, dan relasi kekuasaan di ruang daring. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana “like” dan “share” beroperasi sebagai kapital simbolik dan sosial dalam masyarakat digital serta bagaimana mereka berkontribusi dalam pembentukan status sosial dan identitas pengguna media sosial. Menggunakan pendekatan kualitatif jenis studi literatur, data dikumpulkan melalui penelaahan pustaka dari berbagai jurnal ilmiah, buku akademik, dan laporan riset terkait fenomena interaksi digital. Data dianalisis menggunakan teknik analisis isi kualitatif untuk menggali makna simbolik di balik aktivitas digital tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa “like” dan “share” bukan sekadar fitur teknis, melainkan bentuk validasi sosial yang mencerminkan pengakuan, solidaritas, dan kekuasaan simbolik. Kedua elemen ini memainkan peran penting dalam ekonomi perhatian, di mana individu bersaing untuk memperoleh visibilitas dan pengaruh di ruang maya. Selain itu, penelitian ini menemukan bahwa status sosial di media sosial tidak bersifat tetap, melainkan dibentuk secara dinamis melalui keterlibatan pengguna dan dukungan algoritmik dari platform digital. Simpulan ini menegaskan bahwa dalam masyarakat digital, interaksi sosial telah mengalami desentralisasi, di mana nilai sosial diciptakan dan dipertukarkan melalui simbol-simbol digital.&lt;/p&gt;</description>

															<dc:creator>Difa Nuresa</dc:creator>
															
					<dc:rights>
						Copyright (c) 2025 Journal of Mandalika Social Science
						
					</dc:rights>
											<cc:license></cc:license>
					
					<guid isPermaLink="true">https://journal.institutemandalika.com/index.php/jomss/article/view/258</guid>
																	<pubDate>Thu, 24 Apr 2025 00:00:00 +0000</pubDate>
									</item>
											<item>
										<title>Kelas Sosial dalam Keranjang Belanja Studi tentang Gaya Konsumsi Masyarakat Urban</title>
					<link>https://journal.institutemandalika.com/index.php/jomss/article/view/256</link>
					<description>&lt;p&gt;Perkembangan ekonomi digital telah mendorong perubahan signifikan dalam pola konsumsi masyarakat urban Indonesia. Fitur keranjang belanja daring, sebagai elemen penting dalam e-commerce, bukan hanya menjadi alat transaksi, tetapi juga mencerminkan identitas dan stratifikasi sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana keranjang belanja berperan sebagai representasi kelas sosial dalam praktik konsumsi digital masyarakat urban. Fokus utama penelitian ini adalah membaca pola-pola konsumsi lintas kelas sosial yang terekam melalui fitur keranjang belanja sebagai ekspresi gaya hidup, preferensi budaya, dan simbol posisi sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur (library research), yang mengkaji berbagai sumber sekunder, seperti jurnal ilmiah, buku akademik, dan artikel relevan dari tahun 2015–2024. Data dianalisis menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif melalui teknik content analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isi keranjang belanja mencerminkan kelas sosial konsumen. Kelas atas cenderung membeli produk simbolik bernilai tinggi untuk menunjang gaya hidup eksklusif, kelas menengah memilih produk campuran antara fungsional dan aspiratif, sementara kelas bawah fokus pada barang kebutuhan pokok yang bersifat utilitarian. Preferensi konsumsi ini sekaligus mencerminkan nilai-nilai budaya, strategi sosial, dan bentuk distingsi simbolik antar kelas sosial dalam masyarakat urban. Dengan demikian, konsumsi daring bukan sekadar aktivitas ekonomi, tetapi juga bentuk komunikasi sosial yang mencerminkan dinamika kelas dan identitas di era digital.&lt;/p&gt;</description>

															<dc:creator>Aldian Yusup</dc:creator>
															
					<dc:rights>
						Copyright (c) 2025 Journal of Mandalika Social Science
						
					</dc:rights>
											<cc:license></cc:license>
					
					<guid isPermaLink="true">https://journal.institutemandalika.com/index.php/jomss/article/view/256</guid>
																	<pubDate>Thu, 24 Apr 2025 00:00:00 +0000</pubDate>
									</item>
											<item>
										<title>Sociolinguistic Variations and Identity Negotiation Among Urban Youth in Multilingual Communities</title>
					<link>https://journal.institutemandalika.com/index.php/jomss/article/view/253</link>
					<description>&lt;p&gt;Sociolinguistic variations in multilingual communities reflect the complexity of the relationship between language and identity, particularly among urban youth. This study uses a qualitative method based on literature studies to explore how youth in urban environments utilize language choices to negotiate their social, cultural, and personal identities. Analysis of relevant literature shows that youth use code shifts, language hybridity, and linguistic innovation as adaptive strategies to the social dynamics presented by urbanization and globalization. In a multilingual community, language choice serves not only as a means of communication, but also as a symbol of cultural affiliation, resistance to homogenization, and expression of social mobility. Youth actively build their identities through interactions in social spaces, both physical and digital, which often reflect the tension between local authenticity and global influence. This negotiation of linguistic identity in urban spaces emphasizes the importance of contextual understanding of the role of language in shaping dynamic social structures. This article contributes to sociolinguistic studies by underlining the relationship between linguistic variation and identity construction in multilingual urban environments, while highlighting the theoretical and practical implications for the management of linguistic diversity in the modern era.&lt;/p&gt;</description>

															<dc:creator>Hikmatul Wahyuni Safitri, Andi Muhammad Husni Tamrin</dc:creator>
															
					<dc:rights>
						Copyright (c) 2025 Journal of Mandalika Social Science
						
					</dc:rights>
											<cc:license></cc:license>
					
					<guid isPermaLink="true">https://journal.institutemandalika.com/index.php/jomss/article/view/253</guid>
																	<pubDate>Thu, 24 Apr 2025 00:00:00 +0000</pubDate>
									</item>
											<item>
										<title>Narasi Meme sebagai Mekanisme Kontrol Sosial: Analisis Wacana Visual dalam Budaya Digital</title>
					<link>https://journal.institutemandalika.com/index.php/jomss/article/view/251</link>
					<description>&lt;p&gt;Meme internet telah berkembang menjadi salah satu bentuk komunikasi digital yang paling berpengaruh, memainkan peran signifikan dalam membentuk opini publik, merepresentasikan budaya populer, dan menyampaikan pesan sosial. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana meme digunakan sebagai mekanisme kontrol sosial dalam budaya digital. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur (library research), penelitian ini menganalisis wacana visual dalam meme internet sebagai alat untuk mengonstruksi, menegosiasikan, atau mempertanyakan norma sosial. Data dianalisis melalui pendekatan wacana kritis dengan fokus pada elemen visual dan teks yang menyertainya, yang mencerminkan dinamika kekuasaan, ideologi, dan resistensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meme tidak hanya berfungsi sebagai media hiburan, tetapi juga memiliki dimensi politik dan sosial yang kompleks. Meme dapat menjadi alat untuk memperkuat kontrol sosial melalui humor yang menyasar perilaku menyimpang atau nilai-nilai yang dianggap tidak sesuai. Di sisi lain, meme juga digunakan untuk melawan otoritas atau membongkar struktur kekuasaan melalui ironi dan satire. Representasi visual dalam meme sering kali memperkuat stereotip tertentu, tetapi juga dapat menjadi ruang subversif untuk memprotes ketidakadilan. Dalam konteks budaya digital yang semakin terfragmentasi, meme memiliki kekuatan unik untuk menjangkau audiens luas secara cepat, menciptakan ruang diskusi yang dinamis di antara kelompok masyarakat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa meme merupakan bentuk komunikasi yang multifaset dalam budaya digital modern, sekaligus alat yang dapat dimanfaatkan untuk kontrol sosial maupun resistensi. Studi ini menawarkan perspektif baru terhadap peran meme dalam kajian budaya dan komunikasi kontemporer.&lt;/p&gt;</description>

															<dc:creator>Untung Wahyudi</dc:creator>
															
					<dc:rights>
						Copyright (c) 2025 Journal of Mandalika Social Science
						
					</dc:rights>
											<cc:license></cc:license>
					
					<guid isPermaLink="true">https://journal.institutemandalika.com/index.php/jomss/article/view/251</guid>
																	<pubDate>Thu, 24 Apr 2025 00:00:00 +0000</pubDate>
									</item>
											<item>
										<title>Tantangan dan Strategi Penanganan Kemiskinan Struktural dalam Mewujudkan Pembangunan Sosial Inklusif </title>
					<link>https://journal.institutemandalika.com/index.php/jomss/article/view/261</link>
					<description>&lt;p&gt;Kemiskinan struktural merupakan persoalan kompleks yang bersumber dari ketimpangan sistemik dalam akses pendidikan, kesehatan, pekerjaan, dan layanan publik. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi tantangan utama dan merumuskan strategi penanganan kemiskinan struktural dalam rangka mewujudkan pembangunan sosial inklusif di Indonesia. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif berbasis studi literatur, ditemukan bahwa kemiskinan struktural diperparah oleh lemahnya tata kelola, keterbatasan infrastruktur, serta marginalisasi kelompok rentan. Strategi penanganan yang efektif harus bersifat multidimensional dan melibatkan kolaborasi antar sektor. Penanganan ini perlu menekankan pada reformasi kebijakan, pemberdayaan masyarakat, serta pembangunan yang berkeadilan dan partisipatif.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;</description>

															<dc:creator>Elga Dimas</dc:creator>
															
					<dc:rights>
						Copyright (c) 2025 Journal of Mandalika Social Science
						
					</dc:rights>
											<cc:license></cc:license>
					
					<guid isPermaLink="true">https://journal.institutemandalika.com/index.php/jomss/article/view/261</guid>
																	<pubDate>Thu, 24 Apr 2025 00:00:00 +0000</pubDate>
									</item>
											<item>
										<title>Asimilasi Budaya dan Bahasa dalam Perspektif Sosiolinguistik di IKN Nusantara terhadap Komunikasi Masyarakat Lokal di Wilayah Sepaku Semoi</title>
					<link>https://journal.institutemandalika.com/index.php/jomss/article/view/209</link>
					<description>&lt;p&gt;Pengembangan Ibu Kota Nasional (IKN) Nusantara di Kalimantan Timur memunculkan interaksi baru antara masyarakat lokal dan imigran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses asimilasi budaya dan linguistik yang terjadi di daerah Sepaku Semoi dalam konteks sosiolinguistik. Dengan pendekatan kualitatif, penelitian ini mengidentifikasi dinamika komunikasi masyarakat lokal dan perubahan pola interaksi sebagai akibat dari pengembangan IKN. Hasil penelitian menunjukkan adanya pergeseran penggunaan bahasa daerah, integrasi norma budaya baru, dan strategi adaptasi masyarakat dalam menghadapi perubahan lingkungan sosial.&lt;/p&gt;</description>

															<dc:creator>Azizah, Bhekti Agus Ryanto</dc:creator>
															
					<dc:rights>
						Copyright (c) 2025 Journal of Mandalika Social Science
						
					</dc:rights>
											<cc:license></cc:license>
					
					<guid isPermaLink="true">https://journal.institutemandalika.com/index.php/jomss/article/view/209</guid>
																	<pubDate>Tue, 18 Feb 2025 00:00:00 +0000</pubDate>
									</item>
											<item>
										<title>Membaca Budaya Konsumtif dari Rak Promo Minimarket</title>
					<link>https://journal.institutemandalika.com/index.php/jomss/article/view/257</link>
					<description>&lt;p&gt;Perubahan gaya hidup masyarakat urban Indonesia dalam dua dekade terakhir mencerminkan pergeseran signifikan dalam pola konsumsi, yang kini lebih dipengaruhi oleh keinginan daripada kebutuhan. Minimarket, sebagai ruang konsumsi harian, menjadi arena penting bagi praktik budaya konsumtif ini, terutama melalui keberadaan rak promosi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana rak promo di minimarket tidak hanya berfungsi sebagai alat pemasaran, tetapi juga sebagai representasi simbolik budaya konsumsi masyarakat urban kelas menengah ke bawah. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi literatur, penelitian ini mengeksplorasi makna sosial dan simbolik dari rak promo sebagai cerminan gaya hidup, identitas sosial, dan mekanisme representasi kelas. Data diperoleh dari berbagai literatur akademik, kemudian dianalisis secara interpretatif menggunakan metode analisis isi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rak promo berperan sebagai alat komunikasi non-verbal yang menyisipkan pesan-pesan ideologis konsumtif dalam keseharian. Ia tidak hanya menyusun pola konsumsi, tetapi juga membentuk citra diri konsumen dan menegaskan struktur kelas sosial. Barang-barang yang dipajang menjadi simbol dari kebutuhan, keinginan, hingga aspirasi masyarakat terhadap gaya hidup tertentu. Penelitian ini menegaskan pentingnya membaca ulang ruang-ruang sehari-hari sebagai locus dari pembentukan makna sosial, termasuk minimarket yang tampak banal namun menyimpan dinamika budaya yang kompleks.&lt;/p&gt;</description>

															<dc:creator>Nurul Annisa Aprianti</dc:creator>
															
					<dc:rights>
						Copyright (c) 2025 Journal of Mandalika Social Science
						
					</dc:rights>
											<cc:license></cc:license>
					
					<guid isPermaLink="true">https://journal.institutemandalika.com/index.php/jomss/article/view/257</guid>
																	<pubDate>Thu, 24 Apr 2025 00:00:00 +0000</pubDate>
									</item>
											<item>
										<title>TikTok Sebagai Ruang Dialog Kultural Generasi Z dan Tradisi Lokal </title>
					<link>https://journal.institutemandalika.com/index.php/jomss/article/view/255</link>
					<description>&lt;p&gt;TikTok sebagai platform media sosial berbasis video pendek telah berkembang menjadi ruang dialog kultural yang strategis bagi Generasi Z dalam merepresentasikan, menginterpretasikan, dan mendistribusikan ulang warisan budaya lokal. Perubahan dinamika budaya dalam era digital menuntut adaptasi baru terhadap cara pelestarian dan transformasi nilai-nilai tradisional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana Generasi Z memanfaatkan TikTok sebagai medium partisipatif dalam membangun kembali relasi antara identitas generasi dan tradisi lokal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi literatur, yang melibatkan telaah terhadap buku, artikel ilmiah, dan publikasi akademik relevan, serta konten-konten TikTok yang menjadi bahan kajian dalam penelitian terdahulu. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis isi kualitatif untuk mengeksplorasi makna simbolik dari representasi budaya yang tampil di platform tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa TikTok membuka ruang baru bagi pelestarian budaya lokal dengan cara yang lebih kreatif, visual, dan mudah diakses oleh khalayak luas. Generasi Z tidak hanya menjadi pewaris pasif budaya, tetapi juga aktor utama dalam proses transformasi budaya melalui narasi digital yang mereka ciptakan. Namun, proses ini juga membawa tantangan seperti komodifikasi budaya dan pemutusan konteks nilai tradisional. Dengan demikian, TikTok berperan sebagai media sosial yang mampu menjembatani masa lalu dan masa kini, antara lokalitas dan globalitas, dalam satu ruang digital yang cair dan dinamis.&lt;/p&gt;</description>

															<dc:creator>Muhammad Anhar Tanjung</dc:creator>
															
					<dc:rights>
						Copyright (c) 2025 Journal of Mandalika Social Science
						
					</dc:rights>
											<cc:license></cc:license>
					
					<guid isPermaLink="true">https://journal.institutemandalika.com/index.php/jomss/article/view/255</guid>
																	<pubDate>Thu, 24 Apr 2025 00:00:00 +0000</pubDate>
									</item>
						</channel>
</rss>
